Animated Rainbow Nyan Cat

Minggu, 23 Februari 2014

Nevirapine control the HIV virus


Nevirapine is a drug that is used with other HIV medications to help control HIV infection. These drugs help reduce the amount of HIV in the body so that the immune system can work better. The use of these drugs may reduce the risk of HIV complications (such as new infections, cancer) and improve quality of life.
Nevirapine belongs to a class of drugs known as non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs). However, Nevirapine is not a cure for HIV infection, but only reduce the risk of spreading HIV disease to people lain.Nevirapine not be used to prevent HIV infection after accidental exposure (such as syringes, blood / body fluid contact). Unlike the drugs used to prevent HIV infection after exposure.
Source: http://health.detik.com/readobat/910/nevirapine



Nevirapine kendalikan virus HIV
http://base.detik.com/static/a/5150ea82f726cc1f3a031d98/original/hiv%20obat%20ts.jpg
Nevirapine adalah obat yang digunakan dengan obat HIV lain untuk membantu mengendalikan infeksi HIV. Obat ini membantu mengurangi jumlah HIV dalam tubuh sehingga sistem kekebalan tubuh dapat bekerja lebih baik. Penggunaan obat ini dapat menurunkan risiko komplikasi HIV (seperti infeksi baru, kanker) dan meningkatkan kualitas hidup.
Nevirapine milik kelas obat yang dikenal sebagai non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Tetapi, Nevirapine bukan obat untuk infeksi HIV melainkan hanya mengurangi risiko penyebaran penyakit HIV kepada orang lain.Nevirapine tidak boleh digunakan untuk mencegah infeksi HIV setelah paparan yang disengaja (seperti jarum suntik, darah / kontak cairan tubuh). Berbeda dengan obat HIV yang digunakan untuk mencegah infeksi setelah paparan.

 

Kamis, 13 Februari 2014

Efek Alergi krn Konsumsi Madu pada Bayi Bawah 1 th
Madu memiliki banyak manfaat. Sejak berabad-abad silam, banyak orang mengandalkan kekuatan madu murni untuk pengobatan dan perawatan kecantikan. Namun, di balik khasiatnya, madu murni menyimpan potensi buruk bagi tubuh. Seperti dikutip dari laman Live Strong, madu murni berpotensi memicu reaksi alergi atau keracunan makanan seperti, kram perut, diare, mual, muntah dan demam. 

Madu murni tidak melewati tahap pasteurisasi sehingga spora dan serbuk sari berpotensi tumbuh di dalamnya. Seperti kita tahu, madu merupakan zat manis pekat yang diproduksi lebah, salah satu jenis serangga pemakan nektar bunga dan serbuk sari. 

Chris Wagner dari Dallas Children’s Medical Center, menceritakan pengalamannya merawat pasien yang keracunan madu murni. Alergi terburuk yang berpotensi muncul adalah sesak napas, tekanan darah rendah, pusing, pingsan, hingga gagal jantung. "Karena Anda tidak bisa mengendalikan berapa banyak tepung sari dalam madu murni yang Anda makan," katanya. 

Anak usia di bawah satu tahun juga sangat tidak disarankan untuk mengonsumsi madu, apalagi madu murni, karena efek alergi bisa lebih serius. 

National Institutes of Health merekomendasikan agar mengonsumsi madu yang telah dipasteurisasi untuk mencegah efek buruk. Anak usia di bawah satu tahun juga sangat tidak disarankan untuk mengonsumsi madu, apalagi madu murni, karena efek alergi bisa lebih serius. 

Berdasarkan peringatan dari Food Standards Agency (FSA), madu mengandung spora botulisme yang bisa menyebabkan penyakit serius bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan. Anak-anak di bawah usia satu tahun tidak memiliki kemampuan untuk melawannya. Sistem pencernaan bayi yang belum sempurna akan sangat rentan terserang botulisme. Spora Clostridium Botulinum dalam usus dan menghasilkan racun. Bayi yang menderita botulisme akan mengalami sembelit, kelemahan otot mulai dari wajah dan kepala, si kecil akan menangis lemah, tidak dapat menghisap dan kehilangan ekspresi di wajahnya. Sebagian besar juga mengalami masalah pernafasan. 

Botulisme adalah keadaan di mana tubuh keracunan toksin yang diproduksi oleh bakteri Clostridium Botulinum. Bakteri ini memproduksi zat beracun yang sangat kuat dan dapat menyebabkan kerusakan saraf dan otot. Celakanya, madu bisa saja mengandung spora dari bakteri ini. Sehingga pihak medis tidak menyarankan untuk diberikan pada bayi di bawah satu tahun.